Ki Galar Titiwangsa

Ki Galar Titiwangsa Ketua Umum Tahta Mataram Indonesia

Lahir dan besar di Desa Bangilan, Tuban, Jawa Timur, Ki Galar Titiwangsa memulai pengabdiannya dari sebuah keputusan berani: meninggalkan kariernya di bidang farmasi pada tahun 2010 untuk kembali ke kampung halaman. Ia memulai berbagai usaha, dari laundry hingga warung kopi, bahkan memasarkan produk herbal ke desa-desa, sembari terus membangun koneksi sosial dan spiritual di lingkungannya.

Pertemuan yang mengubah arah hidupnya terjadi pada 11 April 2012, ketika ia memperkenalkan produk kesehatan di Desa Tapen, Kecamatan Senori. Di sana, untuk pertama kalinya, ia berkenalan dengan Lembaga Pendidikan Ilmu Spiritual dan Olahraga Pernapasan Tahta Mataram. Tertarik pada visi dan nilai yang ditawarkan, ia memutuskan bergabung dan menjadi warga Tahta Mataram pertama dari wilayah Bangilan.

Latihan pertamanya dimulai tiga hari kemudian, pada 14 April 2012, di halaman SD Jatisari. Dengan semangat dan konsistensi, ia mengikuti berbagai pelatihan hingga mencapai sabuk coklat polos. Ia juga mendapat banyak bimbingan dari tokoh-tokoh senior, termasuk Ki Tunggul Manik dari Jakarta. Atas dorongan para pelatih, ia mendirikan tempat latihan mandiri di kampungnya dan menjadi pionir pengembangan Tahta Mataram di wilayah Tuban dan Bojonegoro.

Sejak 16 April 2014, latihan resmi dibuka di Bangilan, dimulai dengan tiga siswa. Dari sana, perkembangan terjadi pesat. Setelah mencetak kader pelatih, Ki Galar diberi mandat untuk membuka cabang di berbagai daerah, termasuk Lamongan, Mojokerto, Jombang, Kediri, Blitar, Madura, Pasuruan, Jember, hingga merambah ke Serang, Banten.

Pada 27 Juli 2017, Ki Galar resmi diangkat sebagai Pengurus Pusat Tahta Mataram. Sejak saat itu, beliau sepenuhnya mengabdikan diri untuk mengawal pengembangan lembaga ini, menjaga nilai-nilai spiritual, dan terus membina kader-kader di berbagai daerah.

Ki Galar Titiwangsa Resmi Menerima Mandat Kepemimpinan Tahta Mataram

Pada tanggal 1 Maret 2025, telah terlaksana sebuah momentum penting dalam perjalanan Tahta Mataram.
Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, Ki Galar Titiwangsa secara resmi menerima mandat kepemimpinan untuk melanjutkan tongkat estafet sebagai Ketua Umum Tahta Mataram, menggantikan Ki Daksa Niyata.

Peralihan kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual dan pengabdian yang terus berlanjut demi menjaga nilai, ajaran, dan warisan luhur Tahta Mataram.
Dengan penuh rasa hormat, seluruh jajaran pengurus, anggota, dan keluarga besar Tahta Mataram menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Ki Daksa Niyata atas dedikasi, bimbingan, dan keteladanan beliau selama masa kepemimpinan.

Kini, di bawah kepemimpinan Ki Galar Titiwangsa, diharapkan semangat persaudaraan, pelestarian budaya, dan pengembangan ilmu spiritual semakin tumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Perjalanan baru telah dimulai — membawa cahaya pengabdian untuk Tahta Mataram, bagi sesama, dan untuk alam semesta.

Penyerahan Panji Tahta Mataram

Jejak Pengabdian yang Menginspirasi

Kisah Ki Galar Titiwangsa adalah tentang keyakinan, keberanian, dan pengabdian. Dari desa kecil di Tuban, ia melangkah pasti membagikan ilmu, membangun kesadaran, dan menyalakan semangat spiritual di berbagai penjuru negeri.