Putra kelahiran Kabupaten Semarang ini memulai perjalanan spiritualnya bersama Lembaga Tahta Mataram sejak Februari 2018. Perkenalan pertamanya dengan laku olah pernapasan, spiritualitas, dan nilai luhur budaya Jawa dimulai di Lapangan Krajan, Urutsewu, Ampel, Boyolali.

Pada tanggal 2 April 2018, saya berkesempatan mengikuti ujian kenaikan tingkat pertama yang diselenggarakan di Lapangan Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo. Ujian tersebut berlangsung dengan khidmat dan dihadiri secara langsung oleh Ki Aryo Wisanggeni.


Pada tanggal 10 Juni 2019, saya mengikuti seleksi Sabuk Hitam Muda yang berlangsung selama enam bulan. Kegiatan tersebut bertempat di Kantor Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, dan menjadi tahap penting dalam proses pembinaan serta peningkatan tingkat kemampuan.

Alhamdulillah, pada tanggal 9 Desember 2019 saya berhasil menyelesaikan seluruh tahapan seleksi dengan baik, dan atas kepercayaan yang diberikan, saya menerima mandat untuk memimpin Tahta Mataram Divisi Abhinaya Puraka.

Tahun yang sama, Ferdi menjalani Pengesahan Mori Hitam sebagai bagian dari Pamorta Letting 13, menjadi tonggak awal komitmennya menapaki jalan laku dan pengabdian. Setelah bertahun-tahun berproses, pada 10 Juni 2025 ia meraih kenaikan tingkat sabuk Mori Putih — simbol kedewasaan dalam laku sekaligus kesetiaan menjaga jalur pengabdian.

Kini berdomisili di Jaten, Karanganyar, Ferdi mengemban amanah sebagai Pengurus Pusat Tahta Mataram di bidang Kominfo dan IT. Ia berperan menjaga kesinambungan informasi, mengelola platform digital, dan mengharmoniskan komunikasi antara warisan leluhur dengan tuntutan zaman.
Bagi Ferdi, Tahta Mataram adalah ruang untuk bertumbuh: tempat manusia diajak kembali mengenal dirinya, menghormati asal-usulnya, dan melangkah menuju kesadaran sejati.





